Saya adalah termasuk sebagian besar rakyat indonesia yang sangat bersyukur dengan difilmkannya mahakarya Novel Religi kang Abik "Ayat-Ayat Cinta". ada doa yang terpanjatkan. Semoga mengilhami lahirnya karya-karya sinematografi religi lainnya dan kita tak lagi di jejali
film-film kebodohan yang tak pernah keluar dari tema-tema cabul, mistis, percintaan yang semuanya adalah kepanjangtanganan maksiat.
Banyak komentar yang masuk. bahwa ada beberapa kawan yang tidak puas dengan mas hanung dalam memfilemkan AAC. Komentar tersebut adalah wajar mengingat mereka mungkin terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi terhadap hasil visualisasi Novel yang mereka baca. Apalagi memang, kalau kita baca kisah dibalik pembuatan filem AAC (hanungbramantyo.multiply.com), kita mungkin akan memberikan kewajaran pada filem AAC untuk berbeda dengan cerita di novel aslinya. disitu diceritakan bagaimana mas Hanung mengalami stres gara-gara mengahadapi tekanan atas bawah. dari bawah adalah tuntutan para pembaca berat Novel AAC agar
sesempurna novelnya. dari atas adalah tuntutan si India Manooj Punjabi agar AAC dibuat lebih ngepop dan lebih menonjolkan nuansa percintaannya kayak filem K2H2 (Kuch-Kuch Hota Hai)
Kalau anda tanya kepada saya secara pribadi. Jujur, saya cukup menyayangkan beberapa adegan dalam filem AAC.
Ceritanya, waktu nonton di bioskop saya mengajak tiga keponakan saya yang masih
usia SMP danSD. Bagi saya ini adalah filem Islami. Saya berharap dua keponakan saya itu menemukan pemahaman lebih kuat dalam pergaulan Islami ketika menonton filem AAC.
Sayang saya benar-benar dihinggapi rasa tidak nyaman ketika adegan "akan melakukan hubungan suami istri" dan adegan ciuman fahri itu di tampakkan juga (walaupun saya yakin itu tak sungguhan). Namanya otak manusia,
biarpun berhenti pada moment yang dianggap wajar (tidak sampai bukan-bukaan) tetap saja otak ini menjelajah kemana-mana. saya rasa itu bukan bagian penting yang kalau tidak dimunculkan terus
merusak alur cerita.
Tidak bisa dipaksakan. Itulah kesimpulan akhir saya atas filem AAC. Kalau di Novel dalam setiap lembarnya kita menemukan bahan renungan karena nuansa spiritualnya yang kental maka kita menemukan dalam filem AAC bahan hiburan yang syarat akan roman percintaan.
Apapun harus disyukuri. Bagi saya, setidaknya, ayat Al-Qur'an bisa terlantun di gedung Bioskop dan membuat sebagian penonton wanita yang tak berjilbab menangis itu mudah-mudahan salah satu jalan hidayah. Yang jelas seorang teman berkoementar "saya akhirnya mengerti bagaimana cara menjemput jodoh secara Islami".
Keselamatan dan Rahmat Allah senantiasa untukmu...
di Warung Sederhana ini anda dipersilahkan menikmati hidangan
yang seadanya.
Di Warung Sederhana ini anda tak boleh berharap banyak.
Adanya hanya ini saja.
Tapi jika "tempe" renungan, "tahu" hikmah,
atau "jangan asem" kisah pribadi-nya
bikin enak dan kenyang perut anda saya berharap jangan segan beri komentar
supaya tukang dapurnya tambah semangat
menyajikan makanan yang lebih enak lagi...InsyaAlloh!
yang seadanya.
Di Warung Sederhana ini anda tak boleh berharap banyak.
Adanya hanya ini saja.
Tapi jika "tempe" renungan, "tahu" hikmah,
atau "jangan asem" kisah pribadi-nya
bikin enak dan kenyang perut anda saya berharap jangan segan beri komentar
supaya tukang dapurnya tambah semangat
menyajikan makanan yang lebih enak lagi...InsyaAlloh!
Rabu, 26 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar